opini internasional terhadap krisis Thailand

Krisis Thailand ini tidak hanya menyebabkan kekacauan dalam negeri di negara dengan julukan Gajah Putih tersebut, akan tetapi juga melemahkan posisi Thailand di dunia Internasional, khususnya ASEAN. Negara – Negara anggota ASEAN menilai bahwa pemerintah Thailand mulai tidak peduli dengan keberadaan organisasi tersebut. Apalagi diperkuat dengan absennya PM Abhisit Vejjajiva di KTT Hanoi 2010. Hal tersebut semakin mengindikasikan bahwa ASEAN bukan organisasi penting lagi bagi Thailand. Melihat hal tersebut, pemerintah Thailand mengnggap kejadian itu sebagai sesuatu yang wajar, karena menurut mereka kondisi yang terjadi di dalam negeri tetap lebih penting dari pada apa yang terjadi di sekitarnya. Dengan kata lain, kepentingan nasional tetaplah nomor satu. Bahkan, dengan absennya pemimpin Thailand di KTT Hanoi 2010, dianggap sebagai awal mulai pecahnya persatuan dalam tubuh ASEAN.
Kerugian berikutnya, krisis ini bukan saja posisi Thailand menjadi lemah di mata Negara – Negara ASEAN, akan tetapi posisi ASEAN pun ikut melemah di mata dunia Internasional. Sebagai contoh, dengan adanya krisis ini akan sulit bagi ASEAN untuk melanjutkan kesepakatan pasar bebas dengan China. Ditambah dengan adanya travel warning yang dikeluarkan AS, Australia, dan Uni Eropa untuk warganya supaya tidak berkunjung ke Thailand. Negara – Negara besar tersebut juga menghimbau warga negara mereka yang kebetulan masih berada di Negara Gajah Putih untuk segera mengakhiri kunjungan.
Selain beberapa kerugian dan pelarangan di atas, terlihat sangat jelas bahwa masyarakat Internasional mulai kehilangan kesabaran atas krisis yang terjadi di Thailand tersebut. Masyarakat menuntut supaya krisis tersebut segera di selesaikan dengan cara damai, bukan dengan kekerasan. Karena mereka tidak ingin mendengar berita bahwa jumlah korban jiwa bertambah. Akan tetapi himbauan tersebut diiringi dengan niatan untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara penderita krisis. Banyak pemimpin – pemimpin egara lain yang memberikan saran untuk “penahanan diri” terhadap kelompok – kelompok yang saling berseteru, termasuk Amerika Serikat. AS merupakan salah satu Negara yang mengecam kekerasan 10 April 2010. Bahkan, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington mengatakan bahwa AS adalah salah satu Negara yang terlibat aktiv dalam perundingan – perundingan antara pemerintah dan kelompok penentangnya. Sayangnya intervensi AS tersebut tidak disambut baik oleh pemerintah. Kemlu Thailand dengan tegas menegur negara adidaya tersebut lewat Duta Besar AS untuk Thailand, Eric John. Karena Thailand menganggap Amerika Serikat terlalu mencampuri urusan dalam negeri mereka.
Protes masyarakat internasional untuk terciptanya perdamaian di Thailand ternyata tidak sia – sia. Pemerintah dalam negeri Thailand mendengar dan mengerti semua protes dan himbauan tersebut. Sebagai bukti, pada hari kamis, tanggal 09 mei 2010, PM Abhisit Vejjajiva menyatakan tidak akan pernah berhenti untuk mengupayakan proses damai dalam krisis tersebut. Bahkan dalam salah satu pidatonya, beliau menjanjikan pemilu akan dilangsungkan pada akhir 2011 dengan syarat tidak ada lagi unjuk rasa dan kekerasan. Akan tetapi apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, maka pemilu tidak akan berlangsung. Sebenarnya janji Abhisit tersebut tidak sesuai dengan permintaan kelompok kaus merah. yKarena sesungguhnya kaus merah meminta penyelenggaraan pemilu dalam tiga bulan mendatang per tanggal 24 April 2010. Kelompok kaus merah baru akan memberikan jawaban atas janji pemerintah pada tanggal 15 Mei 2010. Walaupun tidak sesuai dengan permintaan para demonstran, janji tersebut setidaknya merupakan salah satu niat baik pemerintah Thailand untuk menyelesaikan konflik secara damai.
Beberapa negara dan juga PBB menyarankan adanya fasilitator untuk menengahi krisis politik tersebut, termasuk Indonesia. Akan tetapi Thailand, lewat menteri luar negerinya, Kasit Piromnya yang saat itu sedang berkunjung ke Jakarta, menyatakan bahwa Thailand belum membutuhkan bantuan pihak luar. Beliau beranggapan bahwa Thailand bisa mengontrol krisis yang sedang terjadi dan menambahkan bahwa intervensi komunitas internasional tidak dibutuhkan. Walaupun begitu, Thailand tetap menghargai niat baik PBB dan negara – negara tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: