Pembangunan Bangsa Jepang Pasca Perang Dunia II

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Seperti telah diketahui, saat ini Jepang merupakan negara yang tidak bisa disangsikan kepesatan pembangunannya. Jepang masuk dalam 5 besar negara pemberi pengaruh dalam perekonomian dunia. Perhatikan saja, banyak barang – barang rumah tangga yang kita pakai berasal dari Jepang, terutama elektronik dan alat memasak. Padahal, Jepang merupakan negara yang kalah perang dalam perang dunia II. Namun, bangsa Jepang dapat bangkit dengan cepat.
Di perang dunia II, Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941 yang akhirya membawa amerika pada perang dunia II. Pearl Harbor adalah pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di pulau Oahu, Hawaii, barat Honolulu. Banyak dari pelabuhan dan daerah sekeliling merupakan pangkalan Angkatan Laut bawah laut Amerika Serikat: Mabes Armada Pasifik Amerika Serikat. Penyerangan itu membawa luka yang cukup dalam untuk Amerika. Jepang menyerang pangkalan tersebut pada pagi buta saat pasukan Amerika sedang tidak siaga untuk berperang. Untuk kerugian dan korban secara keseluruhan, 21 kapal armada Pasifik tenggelam atau rusak, 188 pesawat terbang musnah dan 159 rusak, orang-orang Amerika yang tewas berjumlah 2.403. Jumlah itu termasuk 68 orang sipil, dan ada 1.178 anggota militan dan orang-orang sipil terluka.
Kemarahan Amerika direalisasikan pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 9 agustus 1945. Pada kedua tanggal tersebut, secara berurutan, Amerika menyerang Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom. Kerusakan yang ditimbulkan oleh pengeboman tersebut sangat di luar dugaan. Jepang segera lumpuh seketika, menyerah tanpa syarat pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Bom atom ini membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945. Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom tersebut.
Yang membuat seluruh dunia kagum adalah ketangkasan Jepang dalam penanganan setelah penyerangan. Jepang tidak butuh waktu lama untuk segera bangkit dan menguasai keadaan. Hanya dalam kurun waktu 30 tahun, jepang segera menjadi salah satu jantung perekonomian dunia.

2. Rumusan Masalah
Apa faktor pendukung kepesatan pembangunan Jepang? Dan bagaimana cara Bangsa Jepang mencapai kemajuan pembangunan tersebut?

3. Hipotesa
Bangsa Jepang dapat berkembang dengan cepat karena semangat untuk bangkit yang luar biasa dan didukung oleh budaya Bangsa Jepang yang tidak mudah menyerah serta mau belajar dari pengalaman. Ditambah strategi rekonstruksi pasca konflik yang tepat.

4. Landasan Teori
Menggunakan pendekatan developmental. Pendekatan ini mulai populer saat muncul negara-negara baru pasca perang dunia II. Pendekatan ini menekankan pada aspek pembangunan ekonomi serta politik yang dilakukan oleh negara-negara baru tersebut. Karya klasik pendekatan ini diwakili oleh Daniel Lerner melalui kajiannya di sebuah desa di Turki pada tahun 1958. Menurut Lerner, mobilitas sosial (urbanisasi, literasi, terpaan media, partisipasi politik) mendorong pada terciptanya demokrasi.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Sejarah Kebangkitan Jepang.
Untuk mengulas mengenai sejarah kebangkitan Bangsa Jepang bisa dimulai dari sisi mana saja. Dalam makalah ini, akan dimulai dengan sejarah mitsubishi setelah perang dunia ke II yang mana merupakan salah satu kunci kebangkitan Bangsa Jepang.

Mitsubishi company pertama kali merupakan usaha pelayaran yg didirikan oleh Yataro Iwasaki (1835-1885) pada tahun 1870. Selama PD II, Mitsubishi membuat pesawat terbang, termasuk pesawat terbang legendaris “Zero” yg menyerang Pearl Harbour 7 Des 1941. Saat itu industri yg menyokong teknologi PD II bukan hanya Mitsubishi tetapi juga banyak industri lainnya, seperti Nakajima Corp yg juga memroduksi pesawat terbang dsb.
Setelah Jepang menyerah kalah ke sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, sekutu menguasai Jepang dan memberlakukan hukumnya di Jepang, diantaranya pelucutan senjata, liberalisasi, unifikasi wilayah dan desentralisasi ekonomi. Sekutu yg dimotori oleh AS, menginginkan kemakmuran dan kekuatan ekonomi di Jepang saat itu tidak terkonsentrasi, tetapi harus lebih disebarluaskan (desentralisasi) dan dijadikan perusahaan publik dlm kerangka demokrasi.
Saat itu di Jepang ada 4 konglomerat-keluarga (zaibatsu) yang dikenal dengan “the big four”, dan 14 yang lebih kecil. Mitsubishi yg merupakan “the big four” pada saat itu harus tunduk pula pada aturan sekutu. Kemudian aset Mitsubishi dibagikan ke seluruh pekerja dan penduduk lokal dalam bentuk saham, sehingga tahun 1946, Mitsubishi berubah menjadi perusahaan independent.

Pada kenyataannya perusahaan yang terdesentralisasi mengalami banyak kesulitan dalam permodalan, produksi, dan pendistribusian hasil produksinya, sehingga akhirnya mereka saling menggabungkan saham mereka dan membentuk group (keiretsu), menjadi Mitsubishi keiretsu atau Mitsubishi group.
Jadi secara historis, aibatsu (konglomerat keluarga) yg muncul di era Edo dan berkembang di era Meiji, pada tahun 1946 harus berubah menjadi perusahaan publik yang pada perkembangannya berubah menjadi keiretsu (perhimpunan antara para pemegang saham). Perkembangan selanjutnya antara keiretsu ini saling bergabung dan menjadi komposisi perusahaan seperti yang ada di Jepang saat ini. Jadi bisa dikatakan bangsa jepang memang telah memiliki skill tinggi sejak jaman Edo (1600-1867).
Jepang yg memiliki SDM dng skill tinggi (dibuktikan dengan kemampuan teknologi alat perangnya ketika PD II) ditambah dukungan AS yg ingin Jepang sebagai penghambat pengaruh komunis di Asia Timur telah menyebabkan Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dan mencapai puncaknya di tahun 1980. Setelah perang dingin selesai akibat runtuhnya Uni Soviet ditahun 1991, hubungan Jepang dan AS masih tetap erat sampai sekarang baik dalam bidang ekonomi maupun militer.

2. Kharakteristik Bangsa Jepang
bangsa Jepang merupakan bangsa yang tidak mudah menyerah. Dari segi budaya, mereka menerapkan sistem kerja kolektif dan bukan merupakan bangsa yang senang meniru. Mereka selalu berusaha belajar dari kemajuan dan kesalahan bangsa lain tanpa harus mencontoh seutuhnya. Seorang ilmuan di Jepang benar – benar memiliki andil yang sangat besar dalam proses pembangunan bangsa. Ketika para ilmuan jepang belajar teknologi maupun perekonomian di Amerika maupun negara Eropa, saat studi tersebut selesai, mereka akan dengan bangga kembali ke tanah airnya dan menerapkan apa yang didapat dengan beberapa modifikasi keunikan sistem sosial dan sistem budaya yang mereka miliki.

Bangsa Jepang memiliki rakyat yang cukup nasionalis. Ekonomi modern berkembang secara simultan dengan identitas budaya nasionalnya. Banyak pengamat Barat menyebut bahwa identitas kebudayaan dan institusi sosial adalah embrio kapitalisme Jepang. Ilmuwan barat menjuluki kebangkitan perekonomian Jepang sebagai sebuah pengecualian menyimpang (anomaly) dan paradoksal.

Bagi ilmuwan Jepang teori ekonomi barat hanya dianggap sebagai “bahan baku.” dan bukan alat yang langsung bisa dipakai. Para perencana ekonomi Jepang tidak pernah percaya bahwa untuk menjadi negara maju, nilai-nilai tradisionil harus dipinggirkan seperti yang terjadi di Barat. Mereka sangat percaya bahwa nilai nilai tradisional justru harus dipertahankan sebagai penyeimbang. Itulah kenapa bangsa jepang dapat tumbuh pesat secara perekonomian namun masih dengan ciri negara Timur yang khas. Life-time employment, seniority based system, dan traditional family system adalah contoh-contoh nilai dan institusi tradisionil Jepang yang masih terpelihara hingga sekarang.

3. Strategi Pembangunan Ekonomi Jepang
Mempelajari perkembangan perekonomian jepang tidak bisa dilepaskan dari mempelajari struktur sosial dan budaya nya. Pemerintah Jepang memprioritaskan pembangunan infrastruktur sosial, dan mengintegrasikan tradisi sosial ke dalam sistem pembangunan ekonomi.

Dari tinjauan mikro, salah satu aspek yang mendorong keberhasilan Jepang dalam membangun sumberdaya manusia paska perang dunia II adalah membudayakan sistem “Kerja Kelompok” (Team work). Yaitu suatu sistem, seperti yang telah dijelaskan di sub bab sebelumnya, yang mana para insinyur Jepang yang dikirim ke Barat untuk belajar harus kembali ke Jepang dengan membawa ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian, ilmu dan teknologi yang mereka bawa harus diajarkan kepada semua anggota kelompoknya.

Sedangakan dilihat dari aspek makro pembangunan, Jepang memprioritaskan kebijakan pemerataan pembangunan. Diantara Negara-negara maju, Jepang adalah negara yang paling tinggi tingkat pemerataan hasil-hasil pembangunannya. Bukan hanya dari aspek pendapatan tetapi juga meliputi fasilitas publik seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur-fisik, dan lain-lain. Rakyat jepang masa sekarang sudah menikmati fasilitas – fasilitas tersebut. Bahkan untuk daerah pedesaan di pegunungan, mereka mendapatkan fasilitas jalan, air minum dan listrik kurang lebih seperti di Tokyo, Kyoto, Osaka dan kota-kota besar lainnya.

Untuk sumber daya pembangunan, jepang memang berbeda dengan negara – negara maju lainnya. Bangsa Jepang sangat sedikit menggunakan sumberdaya yang berasal dari hutang luar negeri terutama pada dekade awal pembangunan industri. ementara Negara-negara eropa seperti Belgia, Perancis, bahkan Rusia justru menggantungkan pada foreign capital (hutang luar negeri) yang difasilitasi oleh “British Capital” dan “French Capital” pada era tahun 1800-an.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan Jepang enggan menggunakan fasilitas utang luar negeri, yaitu :

a. Investor asing tidak tertarik berinvestasi karena Jepang bukan Negara yang kaya sumberdaya alam sehingga “capital-inflow” dalam bentuk “Foreign Direct Investment (FDI)” tidak terjadi.

b. pemerintah Jepang pada saat itu benar-benar belajar dari pengalaman Negara-negara lain yang mengalami kesalahan dalam mengelola foreign capital seperti yang terjadi di Negara Mesir dan Turki yang menyebabkan “kekacauan ekonomi” di kedua negara tersebut. Belajar dari kegagalan Negara lain, pemerintah Jepang giat mengkonsolidasikan sumberdaya domestik dan mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk menjadi mitra pemerintah dalam membangun dan memajukan perekonomian nasional serta membantu dan memfasilitasi masyarakatnya menjadi pengusaha-pengusaha baru. Dengan mengefektifkan sumberdaya-sumberdaya baru tersebut, Jepang memulai revolusi industrinya sebagai kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam sejarah Jepang, sebelum tahun 900, pinjaman luar negeri yang terbesar tercatat 5 juta yen yang dipinjam pada tahun 1870 ketika membangun ruas jalan kereta api antara Tokyo dan Yokohama. Prosentase pinjaman tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan total dana yang dipakai untuk membangun ruas jalan kereta api pada saat itu.

c. Memprioritaskan Pembangunan Infrastruktur Sosial. Keunggulan Jepang lainnya dalam hal rekonstruksi perekonomian pasca perang dunia II yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur fisik adalah bahwa infrastruktur sosial yang dibangun sejak masa keemasan samurai tidak ikut hancur. Meskipun infrastruktur fisik luluh lantak, pengangguran besar-besaran tak dapat dihindari, namun sistem pendidikan yang telah diwajibkan pada masa Tokugawa dan para “shohun” (jendral, militer) terus didorong agar masyakarat untuk terus belajar, terutama dalam hal membaca dan menulis serta terus membangun sistem pendidikan dan business tradition. Dua infrastruktur sosial penting inilah yang telah dibangun dan pada akhirnya menjadi landasan yang kuat dalam pertumbuhan ekonomi moderen di Jepang dalam waktu yang relatif singkat.. Hal ini mencerminkan bahwa “Sumber Daya Manusia” merupakan hal sangat penting sebagai bagian dari “infrastruktur sosial” dalam proses pembangunan. Dimasa lalu dalam sistem pemerintahan yang otokratis feodalisme, dimana Jepang masih menutup diri dari pergaulan internasional dan sistem perekonomian moderen tidak dapat dilaksanakan, peranan sekolah yang diprakarsai oleh kuil-kuil budha cukup mendorong iklim dan tradisi bisnis, sehingga masyarakatnya dapat bertahan secara berswadaya dan mandiri. Pertanian terutama hasil-hasil pertanian dilakukan dengan sistem cooperation and joint-undertaking.

BAB III
KESIMPULAN

Disamping strategi perekonomian yang tepat, yaitu menghindari hutang luar negeri dan memanfaatkan perusahaan – perusahaan lokal, salah satu faktor penentu pesatnya pembangunan Bangsa Jepang adalah masih dipertahankannya nilai – nilai tradisional. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi mereka mengembangkan model mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa konsep dan sistem perekonomian yang dipakai di barat dianggap baru mencapai proses “bahan-baku”, dan belum “ready to use.”. Itulah yang menyebabkan Jepang bisa segera bangkit dari kehancurannya setelah perang dunia II.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: